Hawa dalam Bahasa Indonesia dekat dengan kata keinginan.
Hawa terdapat di Alqur'an di ...
Keinginan pada dasarnya diperbolehkan dalam Islam. Misalnya keinginan untuk mempunyai rumah bagus atau mobil keluarga. Meskipun demikian, is mempunyai 3 koridor utama:
1.Batasan tertinggi (positif) adalah ketika keinginan itu mempunyai imbas terhadap permasalahan sosial. Misalnya, Fulan mempunyai uang Rp. 300.000,-. Ia sedang berkeinginan terhadap sebuah handphone. Ketika hendak berangkat, ada tetangga yang membutuhkan uang Rp. 50.000,- untuk membeli beras. Ketika
2.Batas paling dasar (netral) adalah kebutuhan.
3.Dibawah batas bawah (negatif) adalah ketika hawa berpadu dengan syahwat. Dalam bahasa Indonesia hal ini disebut sebagai hawa nafsu.
'Hawa' (keinginan) berasal dari kata هوا berbeda dengan (Siti) 'Hawa', yakni istri Nabi Adam a.s., yang ditulis dengan حوا dengan tasyjid pada wawu. Kata yang kedua berasal dari kata 'hayatan' yang berarti hidup.
Wallahu a'lam.
Bahasan dan belum di-proof reading oleh Ahmad Husnul Hakim, berdasar kajian subuh sambil jalan pagi dan kajian tasir tematik masjid Iqra' BPPT, ditulis oleh Yus Budiyono.
Tampilkan postingan dengan label Artikel lepas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel lepas. Tampilkan semua postingan
Selasa, 12 Oktober 2010
Selasa, 25 Agustus 2009
Ramadhan dalam Imajinasi Nabi
Oleh. H. Jamal D. Rahman
Keagungan bulan Ramadhan seringkali digambarkan dengan imajinasi yang luar biasa. Saya begitu terpukau dengan imajinasi Nabi Muhammad melukiskan keunggulan bulan Ramadhan dalam banyak hadis. Imajinasi Nabi Muhammad terasa segar, kaya, dan hidup. Sebuah hadis mendeskripsikan suasana sorga pada awal bulan Ramadhan, lengkap dengan detail alam sorga, pakaian, makanan, tempat tidur, dan pasangan bermata jelita yang disediakan bagi orang yang menjalankan ibadah puasa. Berikut hadis dimaksud (saya kutip dari sebuah kitab klasik, Durrotunnashihin):
Pada awal Ramadhan, angin berembus dari bawah singgasana Tuhan, dan daun-daun pepohonan sorga pun bergoyang, hingga terdengar desir semilir teramat merdu. Tak pernah terdengar desir semilir semerdu itu. Menyaksikan hari pertama Ramadhan itu, orang-orang bermata jelita (baca: bidadari) berdoa, “Ya Allah, pada bulan Ramadhan ini jadikanlah salah seorang di antara hambamu sebagai pasangan hidupku.”
Maka, Allah pun mengawinkan orang yang berpuasa dengan salah seorang dari orang bermata jelita itu. Bagi setiap orang bermata jelita tersedia 70 perhiasan warna-warni dan dipan dari batu mulia warna merah berhiaskan mutiara. Disiapkan pula 70 kasur dan 70 aneka makanan. Semua itu khusus untuk orang yang berpuasa pada bulan Ramadhan, tanpa memperhitungkan amal kebaikannya yang lain.
Imajinasi kreatif Nabi Muhammad itu sangat indah. Adalah menarik bahwa dalam banyak hadisnya, Nabi Muhammad menggambarkan keutamaan bulan Ramadhan dengan fiksi dan imajinasi kreatif yang memukau. Dalam imajinasi kreatifnya, Nabi Muhammad seringkali melibatkan alam dan malaikat. Hal itu segera memperlihatkan pertalian antara manusia, alam, malaikat, dan Tuhan sendiri. Maka keagungan bulan Ramadhan merupakan pertalian spiritual dan kosmis keempat wujud tersebut. Kadangkala fiksi dan imajinasi kreatif Nabi Muhammad lebih lengkap menyebut detail alam dan lingkungan ketuhanan. Hal tersebut tentu menambah nuansa dan memperkuat pesan yang ingin disampaikan, misalnya hadis berikut ini:
Pada bulan Ramadhan, aras dan singgasana Tuhan berteriak, sementara malaikat berkata lirih, “Beruntunglah umat Muhammad SAW. Mereka dianugerahi kemuliaan. Matahari, bulan, bintang, burung di udara, ikan di air, dan semua makhluk ber-ruh di muka bumi –kecuali setan– berdoa memohonkan ampun untuk mereka, siang malam.”
Lalu Allah berkata kepada malaikat, “Persembahkan shalat dan tasbihmu di bulan Ramadhan pada umat Muhammad SAW.”
Dan, akhir Ramadhan adalah sesuatu yang sangat menyedihkan dalam imajinasi Nabi Muhammad. Memang, selepas Ramadhan kita segera memasuki hari raya Idul Fitri. Namun Nabi Muhammad tidak melulu menggambarkannya sebagai hari kebahagiaan dan kemenangan, melainkan juga mengingatkan akan musibah yang teramat berat. Dengan datangnya hari kebahagiaan dan kemenangan itu berarti kita kehilangan sesuatu yang amat berharga. Bahkan, kata Nabi, kehilangan sesuatu yang amat berharga itu merupakan musibah. Inilah gambaran imajinatif Nabi Muhammad tentang akhir Ramadhan:
Di malam terakhir bulan Ramadhan, langit, bumi, dan malaikat pada menangis karena musibah yang menimpa umat Muhammad Saw.
“Musibah apa, ya Rasulallah?” tanya sahabat.
“Kepergian bulan Ramadhan.”
Gambaran imajinatif Nabi Muhammad tentang kepergian bulan Ramadhan sebagai musibah itu menggambarkan dengan baik betapa berharganya bulan Ramadhan. Bukan saja orang-orang saleh yang merasa kehilangan dengan kepergian bulan Ramadhan, melainkan juga langit, bumi, dan malaikat. Perasaan kehilangan langit, bumi, dan malaikat atas kepergian bulan Ramadhan tampak sedemikian dalam, sehingga digambarkan bahwa langit, bumi, dan malaikat bukan saja bersedih, melainkan semuanya pada menangis.
Seluruh keutamaan bulan Ramadhan sebenarnya dipersembahkan kepada manusia. Tetapi, secara imajinatif Nabi Muhammad menggambarkan bahwa langit, bumi, dan malaikat pun turut berduka dengan kepergian bulan Ramadhan. Itu berarti, langit, bumi, dan malaikat pun turut berbahagia dengan datangnya bulan Ramadhan, meskipun seluruh keutamaannya tidak untuk mereka, melainkan untuk manusia. Dengan imajinasi tersebut, pesan hadis di atas jadi dalam: jika langit, bumi, dan malaikat saja turut berbahagia dengan datangnya bulan Ramadhan dan turut berduka dengan kepergiannya, alangkah malang manusia yang tidak berbahagia dengan datangnya bulan Ramadhan dan tidak pula berduka dengan kepergiannya.
Bagi saya, imajinasi kreatif Nabi Muhammad tersebut sungguh luar biasa: indah, hidup, memukau, dan pesannya jelas (dan hadis bagaimanapun bersifat didaktis). Apalagi kalau kita membayangkan bahwa imajinasi kreatif tersebut dikemukakan Nabi Muhammad sekitar abad ke-7 M. Bagaimanakah imajinasi kreatif Nabi Muhammad bisa sampai pada deskripsi menakjubkan seperti itu?
Sengaja di sini saya menekankan bahwa gambaran keagungan bulan Ramadhan oleh Nabi Muhammad sebagai fiksi dan imajinasi. Bukan maksud saya mengagungkan imajinasi lebih dari apa yang seharusnya. Sama sekali bukan maksud saya juga menafikan pengalaman spiritual sebagaimana berkembang terutama di dunia tasawuf, atau spekulasi intelektual seperti berkembang dalam tasawuf falsafi. Di sini imajinasi ditempatkan sebagai cara-pandang, perspektif, cara-memaknai sesuatu, sekaligus cara menyampaikan pesan.
Imajinasi adalah anugerah Tuhan yang, saya rasa, diberikan hanya dan hanya kepada manusia. Bersama rasio, imajinasi mendorong kehidupan dan kebudayaan manusia berkembang mencapai kemajuan demi kemajuan. Imajinasi membuka pintu kemungkinan yang paling jauh bahkan mustahil. Sementara, rasio menyiapkan jalan agar apa yang semula diimajinasikan sebagai mustahil kelak jadi mungkin dan nyata. Tidaklah aneh kalau Nabi Muhammad memiliki imajinasi yang demikian tinggi dan begitu kreatif. Tidaklah aneh juga kalau Nabi Muhammad berbicara dengan menggunakan imajinasi, sebab dia berbicara kepada umat yang juga mendapatkan anugerah imajinasi.
Dalam konteks ini, sebagai fiksi dan imajinasi kreatif, hadis-hadis tersebut di atas memiliki logika imajinasinya sendiri. Yang terpenting di antaranya adalah tidak berartinya kesesuaian apa yang dikemukakan dengan fakta yang dikemukakan.
Maka tidaklah terlalu penting apakah langit, bumi, dan malaikat benar-benar menangis di malam terakhir bulan Ramadhan. Yang penting adalah, apakah fiksi atau imajinasi bahwa langit, bumi, dan malaikat menangis di akhir bulan Ramadhan bermakna bagi kita. Begitu juga tidaklah penting apakah singgasana Tuhan benar-benar berteriak dan malaikat berkata bahwa umat Nabi Muhammad beruntung dengan datangnya bulan Ramadhan. Yang penting adalah, apakah keindahan kisah tersebut bermakna dan menggugah perasaan kita.
Demikian juga hadis tentang angin yang berhembus dari bawah singgasana Tuhan dan berdesir di sela daunan pohon sorga pada bulan Ramadhan: sejauhmana keindahan kisah itu menggetarkan hati kita; sejauhamana pula kita merasakan pesan spiritual melalui metafor-metafornya yang fantastis?
Kita wajib mengembangkan kekuatan imajinasi sebagai anugerah Tuhan. Dengan imajinasi yang tajam dan peka, kita akan memiliki peluang lain dalam menghayati Islam, sebab dalam banyak hal Islam diuraikan dengan imajinasi seperti antara lain tampak dari hadis-hadis di atas. Bahkan Tuhan pun berfirman dalam bahasa imajinasi. Dan Dia pasti tahu: berbicara dengan bahasa imajinasi hanya mungkin dilakukan kepada makhluknya yang telah dianugerahi imajinasi, yaitu manusia.
Saya membayangkan, setiap akhir Ramadhan Nabi Muhammad menangis duka bersama langit, bumi, dan malaikat. Juga bersama orang-orang bermata jelita di sorga. Mudah-mudahan kita berada di tengah-tengah mereka semua, bersama-sama melinangkan airmata duka. Jika tidak, saya rasa Nabi Muhammad menangis bukan karena kepergian bulan Ramadhan, tapi berduka karena kita tidak berduka …. ***
Keagungan bulan Ramadhan seringkali digambarkan dengan imajinasi yang luar biasa. Saya begitu terpukau dengan imajinasi Nabi Muhammad melukiskan keunggulan bulan Ramadhan dalam banyak hadis. Imajinasi Nabi Muhammad terasa segar, kaya, dan hidup. Sebuah hadis mendeskripsikan suasana sorga pada awal bulan Ramadhan, lengkap dengan detail alam sorga, pakaian, makanan, tempat tidur, dan pasangan bermata jelita yang disediakan bagi orang yang menjalankan ibadah puasa. Berikut hadis dimaksud (saya kutip dari sebuah kitab klasik, Durrotunnashihin):
Pada awal Ramadhan, angin berembus dari bawah singgasana Tuhan, dan daun-daun pepohonan sorga pun bergoyang, hingga terdengar desir semilir teramat merdu. Tak pernah terdengar desir semilir semerdu itu. Menyaksikan hari pertama Ramadhan itu, orang-orang bermata jelita (baca: bidadari) berdoa, “Ya Allah, pada bulan Ramadhan ini jadikanlah salah seorang di antara hambamu sebagai pasangan hidupku.”
Maka, Allah pun mengawinkan orang yang berpuasa dengan salah seorang dari orang bermata jelita itu. Bagi setiap orang bermata jelita tersedia 70 perhiasan warna-warni dan dipan dari batu mulia warna merah berhiaskan mutiara. Disiapkan pula 70 kasur dan 70 aneka makanan. Semua itu khusus untuk orang yang berpuasa pada bulan Ramadhan, tanpa memperhitungkan amal kebaikannya yang lain.
Imajinasi kreatif Nabi Muhammad itu sangat indah. Adalah menarik bahwa dalam banyak hadisnya, Nabi Muhammad menggambarkan keutamaan bulan Ramadhan dengan fiksi dan imajinasi kreatif yang memukau. Dalam imajinasi kreatifnya, Nabi Muhammad seringkali melibatkan alam dan malaikat. Hal itu segera memperlihatkan pertalian antara manusia, alam, malaikat, dan Tuhan sendiri. Maka keagungan bulan Ramadhan merupakan pertalian spiritual dan kosmis keempat wujud tersebut. Kadangkala fiksi dan imajinasi kreatif Nabi Muhammad lebih lengkap menyebut detail alam dan lingkungan ketuhanan. Hal tersebut tentu menambah nuansa dan memperkuat pesan yang ingin disampaikan, misalnya hadis berikut ini:
Pada bulan Ramadhan, aras dan singgasana Tuhan berteriak, sementara malaikat berkata lirih, “Beruntunglah umat Muhammad SAW. Mereka dianugerahi kemuliaan. Matahari, bulan, bintang, burung di udara, ikan di air, dan semua makhluk ber-ruh di muka bumi –kecuali setan– berdoa memohonkan ampun untuk mereka, siang malam.”
Lalu Allah berkata kepada malaikat, “Persembahkan shalat dan tasbihmu di bulan Ramadhan pada umat Muhammad SAW.”
Dan, akhir Ramadhan adalah sesuatu yang sangat menyedihkan dalam imajinasi Nabi Muhammad. Memang, selepas Ramadhan kita segera memasuki hari raya Idul Fitri. Namun Nabi Muhammad tidak melulu menggambarkannya sebagai hari kebahagiaan dan kemenangan, melainkan juga mengingatkan akan musibah yang teramat berat. Dengan datangnya hari kebahagiaan dan kemenangan itu berarti kita kehilangan sesuatu yang amat berharga. Bahkan, kata Nabi, kehilangan sesuatu yang amat berharga itu merupakan musibah. Inilah gambaran imajinatif Nabi Muhammad tentang akhir Ramadhan:
Di malam terakhir bulan Ramadhan, langit, bumi, dan malaikat pada menangis karena musibah yang menimpa umat Muhammad Saw.
“Musibah apa, ya Rasulallah?” tanya sahabat.
“Kepergian bulan Ramadhan.”
Gambaran imajinatif Nabi Muhammad tentang kepergian bulan Ramadhan sebagai musibah itu menggambarkan dengan baik betapa berharganya bulan Ramadhan. Bukan saja orang-orang saleh yang merasa kehilangan dengan kepergian bulan Ramadhan, melainkan juga langit, bumi, dan malaikat. Perasaan kehilangan langit, bumi, dan malaikat atas kepergian bulan Ramadhan tampak sedemikian dalam, sehingga digambarkan bahwa langit, bumi, dan malaikat bukan saja bersedih, melainkan semuanya pada menangis.
Seluruh keutamaan bulan Ramadhan sebenarnya dipersembahkan kepada manusia. Tetapi, secara imajinatif Nabi Muhammad menggambarkan bahwa langit, bumi, dan malaikat pun turut berduka dengan kepergian bulan Ramadhan. Itu berarti, langit, bumi, dan malaikat pun turut berbahagia dengan datangnya bulan Ramadhan, meskipun seluruh keutamaannya tidak untuk mereka, melainkan untuk manusia. Dengan imajinasi tersebut, pesan hadis di atas jadi dalam: jika langit, bumi, dan malaikat saja turut berbahagia dengan datangnya bulan Ramadhan dan turut berduka dengan kepergiannya, alangkah malang manusia yang tidak berbahagia dengan datangnya bulan Ramadhan dan tidak pula berduka dengan kepergiannya.
Bagi saya, imajinasi kreatif Nabi Muhammad tersebut sungguh luar biasa: indah, hidup, memukau, dan pesannya jelas (dan hadis bagaimanapun bersifat didaktis). Apalagi kalau kita membayangkan bahwa imajinasi kreatif tersebut dikemukakan Nabi Muhammad sekitar abad ke-7 M. Bagaimanakah imajinasi kreatif Nabi Muhammad bisa sampai pada deskripsi menakjubkan seperti itu?
Sengaja di sini saya menekankan bahwa gambaran keagungan bulan Ramadhan oleh Nabi Muhammad sebagai fiksi dan imajinasi. Bukan maksud saya mengagungkan imajinasi lebih dari apa yang seharusnya. Sama sekali bukan maksud saya juga menafikan pengalaman spiritual sebagaimana berkembang terutama di dunia tasawuf, atau spekulasi intelektual seperti berkembang dalam tasawuf falsafi. Di sini imajinasi ditempatkan sebagai cara-pandang, perspektif, cara-memaknai sesuatu, sekaligus cara menyampaikan pesan.
Imajinasi adalah anugerah Tuhan yang, saya rasa, diberikan hanya dan hanya kepada manusia. Bersama rasio, imajinasi mendorong kehidupan dan kebudayaan manusia berkembang mencapai kemajuan demi kemajuan. Imajinasi membuka pintu kemungkinan yang paling jauh bahkan mustahil. Sementara, rasio menyiapkan jalan agar apa yang semula diimajinasikan sebagai mustahil kelak jadi mungkin dan nyata. Tidaklah aneh kalau Nabi Muhammad memiliki imajinasi yang demikian tinggi dan begitu kreatif. Tidaklah aneh juga kalau Nabi Muhammad berbicara dengan menggunakan imajinasi, sebab dia berbicara kepada umat yang juga mendapatkan anugerah imajinasi.
Dalam konteks ini, sebagai fiksi dan imajinasi kreatif, hadis-hadis tersebut di atas memiliki logika imajinasinya sendiri. Yang terpenting di antaranya adalah tidak berartinya kesesuaian apa yang dikemukakan dengan fakta yang dikemukakan.
Maka tidaklah terlalu penting apakah langit, bumi, dan malaikat benar-benar menangis di malam terakhir bulan Ramadhan. Yang penting adalah, apakah fiksi atau imajinasi bahwa langit, bumi, dan malaikat menangis di akhir bulan Ramadhan bermakna bagi kita. Begitu juga tidaklah penting apakah singgasana Tuhan benar-benar berteriak dan malaikat berkata bahwa umat Nabi Muhammad beruntung dengan datangnya bulan Ramadhan. Yang penting adalah, apakah keindahan kisah tersebut bermakna dan menggugah perasaan kita.
Demikian juga hadis tentang angin yang berhembus dari bawah singgasana Tuhan dan berdesir di sela daunan pohon sorga pada bulan Ramadhan: sejauhmana keindahan kisah itu menggetarkan hati kita; sejauhamana pula kita merasakan pesan spiritual melalui metafor-metafornya yang fantastis?
Kita wajib mengembangkan kekuatan imajinasi sebagai anugerah Tuhan. Dengan imajinasi yang tajam dan peka, kita akan memiliki peluang lain dalam menghayati Islam, sebab dalam banyak hal Islam diuraikan dengan imajinasi seperti antara lain tampak dari hadis-hadis di atas. Bahkan Tuhan pun berfirman dalam bahasa imajinasi. Dan Dia pasti tahu: berbicara dengan bahasa imajinasi hanya mungkin dilakukan kepada makhluknya yang telah dianugerahi imajinasi, yaitu manusia.
Saya membayangkan, setiap akhir Ramadhan Nabi Muhammad menangis duka bersama langit, bumi, dan malaikat. Juga bersama orang-orang bermata jelita di sorga. Mudah-mudahan kita berada di tengah-tengah mereka semua, bersama-sama melinangkan airmata duka. Jika tidak, saya rasa Nabi Muhammad menangis bukan karena kepergian bulan Ramadhan, tapi berduka karena kita tidak berduka …. ***
Senin, 13 Juli 2009
Info Haji 1430 H (Paspor Hijau)
Ibadah Haji tahun ini terasa ada yang lain, salah satunya adalah penggunaan PASPOR HIJAU bagi jamaah yang pada tahun-tahun sebelumnya menggunakan Paspor cokelat.
berikut kutipan Yahoonews.com :
Pemerintah diharapkan secepatnya menyelesaikan dan mengeluarkan paspor hijau untuk keperluan jemaah haji Indonesia yang akan berangkat ke Tanah Suci Makkah.
"Pembuatan paspor internasional itu lebih cepat lebih baik, sehingga para calon jemaah haji akan bertambah semangat," kata Ketua MUI Sumut, Prof Dr. Abdullah Syah, MA, di Medan, Minggu.
Ia mengatakan, pembuatan paspor hijau merupakan tugas dan tanggungjawab pemerintah melalui Departemen Agama RI.
Apalagi, pembuatan paspor hijau itu merupakan persyaratan yang telah diberlakukan oleh Pemerintah Arab Saudi. Sebelumnya para jemaah haji Indonesia yang akan berangkat ke Makkah hanya menggunakan paspor coklat, bukan paspor hijau.
Namun bagi jemaah haji yang akan berangkat tahun ini harus menggunakan paspor hijau, yang juga berlaku bagi jemaah haji dari negara lain. Selain parpor hijau, bagi jemaah haji juga harus diberikan suntikan vaksin meningitis sebagai persyaratan untuk mendapatkan visa, katanya.
Sebelumnya, pemerintah Arab Saudi menetapkan kebijakan baru bagi jemaah haji Indonesia, yakni dari penggunaan paspor cokelat menjadi paspor hijau. Pemerintah harus menyediakan paspor hijau lebih banyak karena jemaah haji tahun 2009 sekitar 207 ribu orang.
berikut kutipan Yahoonews.com :
Pemerintah diharapkan secepatnya menyelesaikan dan mengeluarkan paspor hijau untuk keperluan jemaah haji Indonesia yang akan berangkat ke Tanah Suci Makkah."Pembuatan paspor internasional itu lebih cepat lebih baik, sehingga para calon jemaah haji akan bertambah semangat," kata Ketua MUI Sumut, Prof Dr. Abdullah Syah, MA, di Medan, Minggu.
Ia mengatakan, pembuatan paspor hijau merupakan tugas dan tanggungjawab pemerintah melalui Departemen Agama RI.
Apalagi, pembuatan paspor hijau itu merupakan persyaratan yang telah diberlakukan oleh Pemerintah Arab Saudi. Sebelumnya para jemaah haji Indonesia yang akan berangkat ke Makkah hanya menggunakan paspor coklat, bukan paspor hijau.
Namun bagi jemaah haji yang akan berangkat tahun ini harus menggunakan paspor hijau, yang juga berlaku bagi jemaah haji dari negara lain. Selain parpor hijau, bagi jemaah haji juga harus diberikan suntikan vaksin meningitis sebagai persyaratan untuk mendapatkan visa, katanya.
Sebelumnya, pemerintah Arab Saudi menetapkan kebijakan baru bagi jemaah haji Indonesia, yakni dari penggunaan paspor cokelat menjadi paspor hijau. Pemerintah harus menyediakan paspor hijau lebih banyak karena jemaah haji tahun 2009 sekitar 207 ribu orang.
Kamis, 23 Oktober 2008
SYARIAT BERKURBAN


Artikel menjelang Idul adha 1429 H (H-45)
Oleh : Abdul Muta'al Al Jabari
Kurban yg disyariatkan adalah berupa hewan (unta, sapi, atau kambing) yang disembelih pada hari raya Idul Adha dan hari-hari tasyriq, dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ayat Al Qur'an di bawah ini menjadi dasar syariat penyembelihan hewan kurban, adalah:
"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah." (Al Kautsar 1-2)
Ibnu Jarir mengartikan ayat tersebut sebagai berikut : "Jadikanlah shalatmu ikhlas hanya untuk Allah semata dengan sama sekali tidak mengharapkan kepada selain daripada-Nya. Demikian juga kurban yang kamu tunaikan, niatkanlah hanya untuk Allah, tidak untuk berhala-berhala, sebagai realisasi syukur atas apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu yang tak terhingga banyaknya."
Ibnu Juraij meriwayatkan bahwa dulu orang-orang jahiliah berkurban dengan daging dan darah unta untuk Ka'bah. Melihat hal demikian, para sahabat mengadu kepada Rasulullah SAW seraya berkata, "Kita lebih berhak dalam berkurban." Dari peristiwa ini turunlah ayat :
"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya...." (Al Hajj 37)
Dalam hadits Aisyah r.a. disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda :
"Sesungguhnya pahala sedekah itu telah sampai kepada Allah sebelum sampai ke tangan orang yang menerima, dan darah hewan kurban telah berada dalam tempat di sisi Allah sebelum ia mengalir di tanah." (HR. Ibnu Majah)
Dalam hadits lain, juga dari Aisyah, Nabi bersabda :
"Tidak ada suatu amalan yang paling dicintai oleh Allah dari Bani Adam ketika hari raya Idul Adha selain menyembelih hewan kurban. Sesungguhnya hewan itu akan datang pada hari kiamat (sebagai saksi) dengan tanduk, bulu, dan kukunya. Dan sesungguhnya darah hewan kurban telah terletak di suatu tempat di sisi Allah sebelum mengalir di tanah. Karena itu, bahagiakan dirimu dengannya." (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Hakim)
Menurut Tirmidzi hadits tersebut hasan, sedangkan Hakim berpendapat bahwa isnadnya sahih. Sebagian ulama mengatakan isnad itu lemah, namun karena mengandung ajakan untuk mengutamakan kurban 1, hadist itu tidak tercela.
Begitulah berkat keutamaannya, Allah segera menetapkan pahala berkurban walaupun pisau baru digesekkan pada leher hewan itu, sebelum darahnya membasahi tanah. Hal itu merupakan balasan atas ketaatan orang yang berkurban dalam memenuhi seruan Allah. Mereka telah mengkurbankan hartanya agar terhindar dari cengkeraman sikap bakhil yang pada dasarnya merupakan tabiat asli manusia, seperti yang difirmankan Allah (QS An Nisa 128). Namun, melalui ibadah kurban, manusia akan hidup lapang dalam kedermawanan.
demikian sedikit ringkasan artikel, semoga bisa menggugah ruhani jiwa kita untuk selalu ikhlas berkurban HANYA dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT. amin
(sumber tebarhewan.or.id)
Selasa, 30 September 2008
KEMBALI KE FITRAH
Bulan Ramadhan sudah diujungnya, maka setiap muslim selalu berharap menyambut hari raya Idul fitri dengan semangat kembali fitri dalam pengertian awam terbebas dari dosa seperti bayi yang terlahir kembali. pendapat itu tidak salah, tapi mungkin harus lebih diperjelas, seperti yang telah disampaikan Bp. Ustdz DR. H Husnul hakim dalam kultum malam 29 Ramadhan.
Idul Fitri atau kembali ke fitrah sebagaimana dijelaskan pak husnul sebagai fitrah jiwa manusia yang kembali sebagai hamba Allah yang ditakdirkan hanya untuk mengabdi dan selalu berbuat baik atau berakhlaqul karimah.
"jadi fitrah manusia itu taat dan ringan beribadah mengabdi hanya kepada allah, mampu menumbuhkan kasih sayang, berbuat jujur, disiplin persis apa yang kita lakukan pada waktu berpuasa" papar beliau.
kalau itu semua bisa kita lakukan diluar Ramadhan berarti memang kita sudah kembali ke Fitrah sebagai manusia. (hasbi)
wallahualambishowab
Minggu, 31 Agustus 2008
Marhaban Yaa Ramadhan (1)
Kajian Subuh oleh Ustd Ahmad Shodiq, MA
Kajian subuh minggu pagi yang rutin dilaksanakan setelah sholat subuh berjamaah di Masjid Assalam kali ini terasa berbeda, dengan moment menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Diawali dengan Istighosah bersama-sama yang dipimpin Ustd Ahmad Shodiq dengan khusuk diikuti jamaah yang berlangsung kurang lebih 1 jam. Setelah selesai melaksanakan Istighosah dilanjutkan dengan tausiyah yang membahas tentang menyiapkan ruhani kita demi menyongsong dan menyambut bulan penuh berkah dan Maghfiroh dengan :
1). Mempersiapkan diri dengan meluruskan ibadah wajib mulai dari bulan Rajab dan ibadah sunnah mulai bulan sya’ban, sehingga ketika masuk bulan Ramadhan bukan persiapan lagi akan tetapi sudah mulai Start untuk Syiam dan Qiyam Ramadhan.
2). Menjemput datangnya malam seribu bulan (lailatul qadar) dengan Qiyamul lail bukan hanya di 10 malam terakhir, tetapi dari awal ramadhan.
3). Berusaha meningkatkan kwalitas puasa kita ke tingkat khowas (puasanya orang-orang khusus) dengan menjaga Panca indera dari yang diharamkan Allah, “gak pantes lagi saat ini kalo kita berpuasa masih mengeluhkan lapar dan haus” kata Ustadz yang sore ini akan melaksanakan promosi Doktor di UIN Jakarta.
Itulah beberapa kutipan tausiyah beliau pada kajian subuh kali ini, semoga Puasa Ramadhan yang akan kita jalani bisa menjadikan detoksinasi (peleburan) tidak hanya dari segi jasmani /kesehatan tubuh kita, lebih lagi bagi ruhani kita dari dosa yang pernah kita lakukan, karena kata Ulama akan rugi kalau ada masa kita “berjumpa” bulan Ramadhan sementara dosa-dosa kita tidak diampuni Allah SWT . Wallahualam bisahowab.
Kajian subuh minggu pagi yang rutin dilaksanakan setelah sholat subuh berjamaah di Masjid Assalam kali ini terasa berbeda, dengan moment menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Diawali dengan Istighosah bersama-sama yang dipimpin Ustd Ahmad Shodiq dengan khusuk diikuti jamaah yang berlangsung kurang lebih 1 jam. Setelah selesai melaksanakan Istighosah dilanjutkan dengan tausiyah yang membahas tentang menyiapkan ruhani kita demi menyongsong dan menyambut bulan penuh berkah dan Maghfiroh dengan :
1). Mempersiapkan diri dengan meluruskan ibadah wajib mulai dari bulan Rajab dan ibadah sunnah mulai bulan sya’ban, sehingga ketika masuk bulan Ramadhan bukan persiapan lagi akan tetapi sudah mulai Start untuk Syiam dan Qiyam Ramadhan.
2). Menjemput datangnya malam seribu bulan (lailatul qadar) dengan Qiyamul lail bukan hanya di 10 malam terakhir, tetapi dari awal ramadhan.
3). Berusaha meningkatkan kwalitas puasa kita ke tingkat khowas (puasanya orang-orang khusus) dengan menjaga Panca indera dari yang diharamkan Allah, “gak pantes lagi saat ini kalo kita berpuasa masih mengeluhkan lapar dan haus” kata Ustadz yang sore ini akan melaksanakan promosi Doktor di UIN Jakarta.
Itulah beberapa kutipan tausiyah beliau pada kajian subuh kali ini, semoga Puasa Ramadhan yang akan kita jalani bisa menjadikan detoksinasi (peleburan) tidak hanya dari segi jasmani /kesehatan tubuh kita, lebih lagi bagi ruhani kita dari dosa yang pernah kita lakukan, karena kata Ulama akan rugi kalau ada masa kita “berjumpa” bulan Ramadhan sementara dosa-dosa kita tidak diampuni Allah SWT . Wallahualam bisahowab.
Kamis, 21 Agustus 2008
Masjid Al-haram Yang Akan Datang

Walikota Mekah Dr. Osamah Al-Bar menyatakan bahwa pihaknya telah mengeluarkan dana sebesar 5 milyar Riyal (sekitar Rp 12,5 Trilyun) untuk ganti rugi sekitar 1.000 bangunan yang harus dihancurkan untuk perluasan Masjidil Haram di Mekah.
Menurut Al-Bar, seperti diutarakan kepada harian Saudi Gazette edisi Kamis, 21 Agustus hari ini, ia terpaksa memberi kompensasi hingga 400.000 Riyal permeter atau sekitar Rp 1 milyar. Angka ini diberikan untuk wilayah yang berlokasi radius 100 meter dari masjid. Sementara yang terjauh mendapatkan 150.00 Riyal permeter perseginya, atau sekitar Rp 375 juta. Tapi, pada kasus tanah di puncak Jabal Hindi ia hanya keluarkan dana 15.000 Riyal atan sekitar Rp 37,5 juta permeter perseginya.
Menurut Al-Bar lagi, ada 300.000 meter persegi yang harus diganti rugi untuk pembangunan yang diperkirakan akan selesai seluruhnya dalam 3 (tiga) tahun ini. Untuk lokasi masjid sendiri nantinya akan memberi tambahan luas 72.500 meter persegi yang semuanya akan diberi pendingin rangan. Diperkirakan sekitar 500.000 jemaah akan tertampung di ruangan baru ini.
semoga kita diberikan kesempatan untuk menyaksikan keagungan Baitullah - Masjidil Haram secara langsung, Amiin. (informasihaji-Musthafa Helmy)
Sabtu, 05 Juli 2008
Dua Tangisan
Seorang ulama Zuhud berkata:
1. Barang siapa yang berbuat dosa, sementara dia tertawa karena merasa bangga, maka kelak Allah akan memasukkannya ke neraka dalam keadaan menangis.
2. Barang siapa Taat kepada kepada Allah, sementara dia menangis sebab amat takut kepada-Nya maka kelak Allah akan memasukkannya ke surga dengan penuh kegembiraan.
Nashihul ibad 52
1. Barang siapa yang berbuat dosa, sementara dia tertawa karena merasa bangga, maka kelak Allah akan memasukkannya ke neraka dalam keadaan menangis.
2. Barang siapa Taat kepada kepada Allah, sementara dia menangis sebab amat takut kepada-Nya maka kelak Allah akan memasukkannya ke surga dengan penuh kegembiraan.
Nashihul ibad 52
Kamis, 03 Juli 2008
Tiga Macam Keberuntungan
Yahya bin Mu'adz Ar Razi pernah berkata : sungguh beruntung orang-orang yang ;
1. meninggalkan hartanya sebelum harta tersebut meninggalkannya
2. membangun kuburan sebelum ia memasukinya
3. membuat Ridho Tuhannya sebelum ia menemui-Nya.
yang dimaksud meninggalkan hartanya ialah harta tersebut dipergunakan untuk kebajikan dan amal sholeh sebelum harta itu lenyap darinya.
yang dimaksud dengan membangun kubur ialah senantiasa melakukan amal yangbisa membuat dirinya nyaman di alam kubur kelak,
dan yang dimaksud dengan membuat ridho Tuhannya ialah melaksanakan segala perintahnya dan menjauhi larangannya.
1. meninggalkan hartanya sebelum harta tersebut meninggalkannya
2. membangun kuburan sebelum ia memasukinya
3. membuat Ridho Tuhannya sebelum ia menemui-Nya.
yang dimaksud meninggalkan hartanya ialah harta tersebut dipergunakan untuk kebajikan dan amal sholeh sebelum harta itu lenyap darinya.
yang dimaksud dengan membangun kubur ialah senantiasa melakukan amal yangbisa membuat dirinya nyaman di alam kubur kelak,
dan yang dimaksud dengan membuat ridho Tuhannya ialah melaksanakan segala perintahnya dan menjauhi larangannya.
Rabu, 14 Mei 2008
Penyumbat Saluran Rezeki
oleh : KH Abdullah Gymnastiar
: hikmah
: hikmah
Allah SWT menciptakan semua makhluk telah sempurna dengan pembagian rezekinya. Tidak ada satu pun yang akan ditelantarkan-Nya, termasuk kita. Karena itu, rezeki kita yang sudah Allah jamin pemenuhannya. Yang dibutuhkan adalah mau atau tidak kita mencarinya. Yang lebih tinggi lagi benar atau tidak cara mendapatkannya. Rezeki di sini tentu bukan sekadar uang. Ilmu, kesehatan, ketenteraman jiwa, pasangan hidup, keturunan, nama baik, persaudaraan, ketaatan termasuk pula rezeki, bahkan lebih tinggi nilainya dibanding uang.Walau demikian, ada banyak orang yang dipusingkan dengan masalah pembagian rezeki ini. “Kok rezeki saya seret banget, padahal sudah mati-matian mencarinya?” “Mengapa ya saya gagal terus dalam bisnis?” “Mengapa hati saya tidak pernah tenang?” Ada banyak penyebab, mungkin cara mencarinya yang kurang profesional, kurang serius mengusahakannya, atau ada kondisi yang menyebabkan Allah Azza wa Jalla “menahan” rezeki yang bersangkutan. Poin terakhir inilah yang akan kita bahas.
Mengapa aliran rezeki kita tersumbat? Apa saja penyebabnya? Saudaraku, Allah adalah Dzat Pembagi Rezeki. "Tidak ada setetes pun air yang masuk ke mulut kita kecuali atas izin-Nya". Karena itu, jika Allah SWT sampai menahan rezeki kita, pasti ada prosedur yang salah yang kita lakukan. Setidaknya ada lima hal yang menghalangi aliran rezeki.
Pertama, lepasnya ketawakalan dari hati. Dengan kata lain, kita berharap dan menggantungkan diri kepada selain Allah. Kita berusaha, namun usaha yang kita lakukan tidak dikaitkan dengan-Nya. Padahal Allah itu sesuai prasangka hamba-Nya. Ketika seorang hamba berprasangka buruk kepada Allah, maka keburukan-lah yang akan ia terima. Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Demikian janji Allah dalam QS Ath Thalaaq [63] ayat 3.
Kedua, dosa dan maksiat yang kita lakukan. Dosa adalah penghalang datangnya rezeki. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya seseorang terjauh dari rezeki disebabkan oleh perbuatan dosanya.” (HR Ahmad). Saudaraku, bila dosa menyumbat aliran rezeki, maka tobat akan membukanya. Andai kita simak, doa minta hujan isinya adalah permintaan tobat, doa Nabi Yunus saat berada dalam perut ikan adalah permintaan tobat, demikian pula doa memohon anak dan Lailatul Qadar adalah tobat. Karena itu, bila rezeki terasa seret, perbanyaklah tobat, dengan hati, ucapan dan perbuatan kita.
Ketiga, maksiat saat mencari nafkah. Apakah pekerjaan kita dihalalkan agama? Jika memang halal, apakah benar dalam mencari dan menjalaninya? Tanyakan selalu hal ini. Kecurangan dalam mencari nafkah, entah itu korupsi (waktu, uang), memanipulasi timbangan, praktik mark up, dsb akan membaut rezeki kita tidak berkah. Mungkin uang kita dapat, namun berkah dari uang tersebut telah hilang. Apa ciri rezeki yang tidak berkah? Mudah menguap untuk hal sia-sia, tidak membawa ketenangan, sulit dipakai untuk taat kepada Allah serta membawa penyakit. Bila kita terlanjur melakukannya, segera bertobat dan kembalikan harta tersebut kepada yang berhak menerimanya.
Keempat, pekerjaan yang melalaikan kita dari mengingat Allah. Bertanyalah, apakah aktivitas kita selama ini membuat hubungan kita dengan Allah makin menjauh? Terlalu sibuk bekerja sehingga lupa shalat (atau minimal jadi telat), lupa membaca Alquran, lupa mendidik keluarga, adalah sinyal-sinyal pekerjaan kita tidak berkah. Jika sudah demikian, jangan heran bila rezeki kita akan tersumbat. Idealnya, semua pekerjaan harus membuat kita semakin dekat dengan Allah. sibuk boleh, namun jangan sampai hak-hak Allah kita abaikan. Saudaraku, bencana sesungguhnya bukanlah bencana alam yang menimpa orang lain. Bencana sesungguhnya adalah saat kita semakin jauh dari Allah.
Kelima, enggan bersedekah. Siapapun yang pelit, niscaya hidupnya akan sempit, rezekinya mampet. Sebaliknya, sedekah adalah penolak bala, penyubur kebaikan serta pelipat ganda rezeki. Sedekah bagaikan sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji. Artinya, Allah yang Mahakaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat (QS Al Baqarah [2]: 261). Tidakkah kita tertarik dengan janji Allah ini? Maka pastikan, tiada hari tanpa sedekah, tiada hari tanpa kebaikan. Insya Allah, Allah SWT akan membukakan pintu-pintu rezeki-Nya untuk kita.
Sebagai telaah yang perlu kaum muslim ketahui, bahwa rezeki bukanlah melulu soal harta dan materi, tetapi semua hal yang baik dan bermanfaat bagi kita baik didunia maupun diakhirat itulah yang dinamakan rezeki bagi kita.
yang termasuk rezeki bagi kita adalah : 1) makanan yang kita makan dan membuat manfaat bagi tubuh kita, 2) pakaian yang kita pakai dan bukan hanya yang kita simpan/koleksi, 3) harta yang kita sedekahkan dijalan Allah.
jadi harta kita yang sekian ratus juta ditabungan belum tentu itu rezeki bagi kita, atau makanan dikulkas dan pakaian baru bertumpuk dilemari belum tentu rezeki kita kalau belum dimanfaatkan.
sumber.. tabloid jumat republika-kebunhikmah.com
Langganan:
Postingan (Atom)