*Ingatlah Lima Perkara Sebelum datang Lima perkara*

Senin, 14 Februari 2011

Ketika Dosa Lebih Besar Dibanding Ampunan Tuhan

Diceritakan kembali oleh Jamal D. Rahman

Agak tergopoh-gopoh, dengan wajah tegang, Umar ibnul Khatthab menghadap Rasulallah SAW, pada suatu siang yang terik.
“Ada apa?” bertanya Rosulullah dengan nada masygul.
Dilihatnya wajah Umar berkaca-kaca dan memerah, menahan amarah. Tapi di balik garis-garis geram di wajah Umar, Rosulullah melihat juga perasaan bingung. Mungkin juga rasa takut. Umar berusaha menyembunyikan galau perasaannya. “Tenang, sahabatku. Tenangkan hatimu,” Rosulullah menenangkan Umar.
Umar terdiam. Sedikit sesenggukan. Wajahnya merah. Matanya basah.
“Ada apa?”
“Seorang pemuda. Seorang pemuda, Rasulullah.”
“Seorang pemuda? Ada apa dengan pemuda itu?”
“Dia di luar.”
“Suruh dia masuk.”
Dengan merunduk, pemuda itu masuk. Dia berjalan pelan dengan langkah penuh ketakutan. Dia tak berani menatap Umar, apalagi Rosulullah. Dia terus merunduk, sesenggukan. Wajahnya pucat. Airmatanya mulai cucur. Tak pernah dia merasa sedemikian ketakutan seperti saat ini. Tak pernah merasa bersalah seperti pada siang seterik ini.
“Kenapa kamu?”
Pemuda itu masih sesenggukan. Tak kuasa menjawab Rosulullah.
“Kenapa kamu?” Rosulullah mengelus bahu sang pemuda.
Hening. Rumah Rosulullah sunyi. Bumi diam. Langit diam. Umar diam.
Setelah agak lama, pemuda itu berkata. Patah-patah suaranya.
“Saya,” katanya dengan suara bergetar, “tak berani menghadapmu, wahai Rosul. Itu sebabnya saya menghadap Sayidina Umar. Entah kenapa, Sayidina Umar membawa saya menghadapmu, ya Rasul.”
“Katakan apa yang kaukatakan padaku tadi,” kata Umar, antara rasa marah dan kasihan.
“Saya malu.”
“Kenapa kamu?” tanya Rosullah.
“Malu saya, Rasul.”
“Sesuatu kauceritakan pada Umar tapi kausembunyikan dariku?”
“Saya takut, Rosul.”
“Pernahkah kaulihat aku marah?”
Pemuda itu menggeleng. Lalu katanya, “Saya seorang pendosa.”
“Allah Maha Pengampun. Dosa apa yang telah kaulakukan?”
“Besar, sangat besar. Dosa yang saya lakukan sangat besar.”
“Apa?”
“Saya takut sekali.”
“Apakah kamu membunuh orang?”
“Dosa saya lebih besar daripada dosa membunuh orang.”
“Kamu syirik?”
“Dosa saya lebih besar.”
“Lebih besar mana dosamu dibanding kasih sayang Allah?”
“Dosa saya lebih besar.”
“Lebih besar mana dosamu dibanding ampunan Allah?”
“Dosa saya lebih besar.”
“Lebih besar mana dosamu dibanding singgasana Allah?”
“Dosa saya lebih besar.”
“Lebih besar mana dosamu dibanding Allah SWT?”
Pemuda itu terhenyak. Mulutnya terkunci. Merunduk lebih rendah lagi. Sesenggukan lebih keras lagi. Wajahnya pucat pasi.
“Ayo, sayang, ceritakan apa dosa yang telah merisaukanmu,” Rasul membujuk lembut. “Allah lebih besar dibanding dosamu, bukan?”
“Saya...,” terbata-bata dia berkata, “adalah seorang penggali kubur. Kemaren, seorang gadis cantik sekali dikubur di pekuburan tempat saya bekerja. Sudah lama saya jatuh hati pada gadis berkulit langsat itu. Dalam keadaan meninggal pun, saya tetap jatuh hati padanya. Dan terjadilah dosa itu?”
“Dosa apa, Pemudaku?”
“Ketika kuburan sepi sekali, saya gali kuburannya. Parasnya masih cantik sekali. Tak pernah saya melihat perempuan secantik mayat di depan saya itu. Saya ...,” dia menahan airmatanya.
“Kau apakan dia?” Rasul menahan nafas.
“Saya ... saya menyetubuhinya,” dia meraung sekeras-kerasnya. Telungkup. Bersujud.

Rasulullah merah padam seketika. Berdiri, diikuti Umar di sisi kanan belakangnya. Wajah mereka terbakar. Menyala. Berkobar.
“Pergi kamu!” Rasul mengusir pemuda itu. Dia marah besar. Dia murka.
Semesta terbakar hening. Sunyi pekak. Raung tangis hati sang pemuda membelah-belah langit. Matahari sejengkal di atas ubun-ubun.
Pemuda itu pun pergi, memanggul dosa yang tak kuasa lagi ditanggungnya. Dia berjalan terhuyung-huyung oleh gebalau perasaan berdosanya yang terasa lebih berat dari seluruh semesta. Dia harus meninggalkan bumi yang pahit ini, membawa seluruh perasaannya yang hancur berkeping-keping. Dia menembus gurun panas di bawah terik matahari yang membakar. Di tengah gurun itu, dia adalah sebutir debu yang tak berdaya, tanpa suara, tanpa apa, tanpa siapa. Dan dia pun rubuh. Terjerembab. Mencium debu.
“Tuhanku,” dia bergumam dengan sisa tenaga di tenggorokannya, “akulah pendosa. Akulah pendosa, ya Tuhanku. Telah kudatangi Rasul-Mu, berharap memberiku syafaat agar aku diterima kembali di sisi-Mu. Tapi, Kautahu, karena dosaku tak tertanggungkan, dia pun mengusirku.”
Tenggorokan yang kering. Matahari membakar gurun yang sunyi. Mata yang basah. Angin yang mengipas-ngipas di atas debu.
“Maka kini aku mengetuk pintu-Mu, memohon kiranya Kau memberiku syafaat bagi hamba-Mu pendosa ini. Aku tahu, Engkau Maha Pengasih, dan Engkaulah satu-satunya harapanku. Jika tidak, kirimkanlah kiranya kepadaku api. Bakarlah aku sekarang juga, sebelum Kaubakar aku dalam api neraka ....”
***

Jibril mengetuk pintu Rasul.
“Salam Tuhan untukmu, ya Rasul.”
“Wa’alaikum salam.”
“Junjunganku, izinkan aku menyampaikan pesan Allah untukmu. Dia bertanya, ‘Engkaukah yang menciptakan hamba-Ku?’”
“Allah lah yang menciptakan mereka, yang menciptakan aku.”
“Engkaukah yang memberi mereka rejeki?”
“Allah lah yang memberi rejeki.”
“Engkaukah yang menerima taubat hamba-Ku?
“Allah lah yang menerima taubat dan mengampuni hamba-Nya.”
“Ya Rasul, inilah firman Allah untukmu, ‘Telah Kuutus hamba-Ku kepadamu untuk mengakui sebagian dosanya, tapi kau usir dia justru karena dia mengaku telah berbuat dosa. Bagaimana jika hamba-Ku yang lain datang kepadamu dan mengakui segunung dosa mereka? Kuutus engkau jadi Rasul sebagai rahmat bagi hamba-hamba-Ku. Maka jadilah pemberi syafaat untuk memaafkan mereka yang berdosa. Yang berdosa besar sekalipun.’ ”
Semesta diam. Matahari diam. Rasul diam. Umar diam, menduga-duga hati Rasul yang kini merunduk.
Tiba-tiba Rasul, “Panggil ke mari pemuda tadi!” Suaranya pelan. Nyaris tak terdengar.

***

Pemuda itu tiba di rumah Rasul tepat ketika sang baginda shalat Magrib, menjadi imam para sahabat yang agung. Ketika didengarnya Rasul membaca surat At-Takatsur, tubuh pemuda mendadak dingin. “Bermegah-megah telah membuatmu lalai,” terdengar suara Rasul bergetar, menggetarkan langit-langit batin sang pemuda yang kini terasa akan runtuh. Tubuh pemuda itu kian dingin. “Sampai kau masuk ke liang kubur,” Rasul melanjutkan ayat suci.
Sampai kau masuk ke liang kubur. Terbayang kuburan tempatnya bekerja. Terbayang kuburan gadis yang pernah digalinya. Terbayang wajah gadis yang ... tiba-tiba matanya gelap. Dia rubuh. Tanpa suara. Tanpa debu.[]

Selasa, 08 Februari 2011

Manusia yang Membuat Malaikat Cemburu

Diceritakan oleh Jamal D. Rahman

Malaikat senantiasa turun ke bumi, terutama pada malam-malam penuh keagungan seperti bulan Ramadan. Dilihatnya umat Islam beramai-ramai shalat tarawih di mesjid-mesjid, di langgar dan surau, di rumah dan kantor. Di kota-kota, di dusun-dusun, di gang-gang, di pelosok desa. Berbahagialah malaikat menyaksikan umat manusia mengagungkan asma Allah. “Alangkah bahagia Nabi Muhammad sekiranya menyaksikan bibir umatnya tak henti-henti menyebut nama Tuhan, berzikir, membaca Al-Qur’an, dan bershalawat untuknya,” malaikat bergumam dalam dirinya. Malaikat tak kuasa menahan bahagia. Matanya mulai menggeremang, berkaca-kaca. Airmatanya tetes jadi berkah bagi umat manusia.

Dilihatnya manusia bertasbih, sama dengan malaikat bertasbih. Dilihatnya manusia bertakbir, sama dengan malaikat bertakbir. Dilihatnya manusia bertahmid, sama dengan malaikat bertahmid. Alangkah agung manusia-manusia ini, bergumam lagi malaikat. Mereka bertasbih, bertakbir, bertahmid, dan bershalawat seperti para malaikat yang tak pernah melakukan dosa apa pun. Alangkah bahagia manusia-manusia agung ini.

Tiba-tiba malaikat terdiam. Tertegun. Terhenyak. Diperhatikannya kini dengan seksama: manusia-manusia itu rupanya tak hanya mengagungkan asma Allah. Mereka tak hanya melakukan apa yang dilakukan malaikat. Mereka melakukan juga apa yang tak dilakukan malaikat. Ternyata ada perbedaan antara apa yang dilakukan manusia dan apa yang dilakukan malaikat di hadapan kemahaagungan Tuhan. Malaikat masygul. Terdiam. Airmatanya kian deras mengalir. Airmata bahagia itu kini berubah jadi airmata kesedihan yang dibakar oleh rasa cemburu.

Apa yang membuatmu cemburu pada manusia-manusia yang sombong dan hina itu, wahai malaikat yang agung? Tidakkah engkau telah mendapat segalanya dari Tuhan? Tidakkah engkau selalu berada di sisi Tuhan, dan tak pernah mendapat murka? Sedangkan manusia-manusia itu seringkali tidak tahu diri, congkak, sombong, membuat kerusakan di muka bumi, dan saling menyakiti satu sama lain. Bukankah mereka lebih busuk dibanding iblis? Kenapa engkau cemburu pada mereka?

“Mereka melakukan tiga hal yang tak kami lakukan,” katanya lirih. “Berbahagialah di mata Tuhan mereka yang melakukan tiga hal itu.”

Pertama, di antara gema takbir, tasbih, tahmid, dan shalawat itu, malaikat mendengar gema lain yang tak pernah mereka dengar di kalangan malaikat. Yaitu gema istigfar, gema permohonan ampun yang kerapkali diiringi tumpahan airmata penyesalan yang amat dalam. Betapa indah gema istigfar membumbung ke langit-langit malam yang sunyi, menembus lapisan-lapisan semesta, hingga mencapai arasy Tuhan yang penuh rahasia. Malaikat cemburu pada manusia yang beristigfar. Sebab, mereka tak pernah beristigfar, karena mereka memang tak pernah berbuat dosa. Adakah yang lebih disukai Tuhan selain airmata istigfar para hamba yang penuh rasa sesal?

Kedua, di antara gema istigfar itu, manusia ternyata juga berbagi dengan sesama. Mereka menyisihkan sebagian harta mereka, berinfak dan bersedekah. Juga mengeluarkan zakat. Mereka membantu saudara-saudara mereka yang fakir lagi miskin, meringankan beban hidup anak-anak yatim. Betapa ingin malaikat melakukan hal yang sangat disukai oleh Allah Swt ini. Tapi mereka tak bisa melakukannya. Bukankah malaikat tak punya harta, dan di antara malaikat tak ada fakir-miskin dan anak yatim?

Ketiga, di antara gema istigfar, mereka dengar umat Islam berdoa memohon kepada Tuhan apa saja yang mereka harapkan. Mereka memohon berbagai peruntungan: petani mohon panen; pedangan mohon laba; pegawai mohon kenaikan gaji; si pejabat mohon kekuasaan dilanggengkan; si penganggur mohon pekerjaan; si sakit mohon sembuh; si gadis mohon pacar yang saleh; si duda mohon janda muda; dan seterusnya. Doa-doa itu terdengar merdu. Malaikat tahu, Tuhan berbahagia mendengar semua doa.

Dan malaikat, apakah yang perlu mereka mohon? Mereka tidak memohon apa pun.

Melihat umat Islam melakukan tiga hal itu, malaikat menangis cemburu. Tangis mereka memecah langit, mendebur laut.

“Berbahagialah manusia yang membuat para malaikat cemburu.”

Senin, 31 Januari 2011

Mahkota Al-Qur’an

Diceritakan oleh Jamal D. Rahman

Ia mengucapkan salam pada lelaki itu. Ia datang dengan hormat yang dalam. Sudah lama ia mengenalnya. Ia yakin sang lelaki yang kini berdiri di hadapannya masih mengenalnya, sebab dahulu dia yang sering menemuinya, dengan rasa cinta yang dalam. Maka alangkah kecewa ia ketika tahu bahwa ternyata sang lelaki tak mengenalnya lagi. Tapi tak lama kemudian tensi kecewanya menurun, sebab ternyata dia tampak mengingat-ingat, seakan mulai sadar bahwa yang datang kepadanya memang pernah dikenalnya. Ia lihat lelaki itu terus mengingat-ingat, dan tampak ingatannya mulai tumbuh tapi belum penuh.
“Anda siapa?” akhirnya dia bertanya dengan masygul setelah gagal mengembalikan ingatannya.
“Saya Al-Qur’an,” jawabnya. “Saya Al-Qur’an yang dulu sering Anda baca dengan penuh cinta.”
Lelaki itu terkejut. Al-Qur’an? Dia bertanya dalam hatinya dengan rasa heran dan takjub. Dia ingat kini, dulu dia memang rajin membaca kitab suci itu.
Sekali lagi ia memberi hormat. “Mari saya antar Anda berjumpa dengan Allah Swt.,” ajak Al-Qur’an dengan sungguh-sungguh. “Saya bertugas mengantar orang-orang yang dulu rajin membaca saya untuk berjumpa dengan Allah Swt.”
Alangkah bahagia lelaki itu. Siapa tak ingin berjumpa dengan Allah? Siapa tak bahagia berjumpa dengan Allah?
Di hadapan Allah, semua terdiam. Tak ada kata-kata. Lelaki itu tertegun. Takjub. Tak bisa berkata. Tak bisa apa-apa.
Lelaki itu semakin tertegun ketika melihat Tuhan memberikan mahkota raja dan dua jubah kebesaran kepada Al-Qur’an. Lelaki itu berharap Tuhan memberikan mahkota dan jubah kebesaran kepadanya juga. Tapi dia harus menelan kecewa.
Al-Qur’an tahu siapakah yang berhak memakai mahkota dan jubah kebesaran itu. Ia segera mengenakan mahkota pada lelaki di hadapannya, disaksikan Tuhan. Dia mengenakan mahkota Tuhan, di hadapan Tuhan pula. Berbahagialah lelaki itu. Bagaimanakah kebahagiaan sang lelaki mesti dilukiskan?
Lelaki itu kemudian mengangkat tangan kanannya, bersiap mengenakan jubah kebesaran. Tapi sekali lagi dia harus menelan kecewa. “Jubah ini bukan untukmu,” kata Al-Qur’an.
Lelaki itu segera membangun rasa puas atas mahkota yang dikenakannya. Dan tak lupa bersyukur.Adakah yang lebih agung dibanding memakai mahkota Tuhan?
Al-Qur’an lalu pamit. Ia akan pergi dengan dua jubah kebesaran yang tadi diberikan Tuhan. Ia memberi hormat. Lalu mengucapkan salam sebelum akhirnya pergi entah ke mana.
Lelaki itu tertegun, takjub, tak bisa berkata, tak bisa apa-apa. Ia didekap oleh rasa haru dan bahagia, seakan semesta seluruh rahasia terbentang di matanya.
Dan jubah kebesaran itu?
Al-Qur’an tiba-tiba menyapa sepasang suami-istri. Mengucapkan salam, memberi hormat, seraya memperkenalkan diri. Lalu, ia memohon agar suami-istri itu memakai jubah kebesaran yang dibawanya. “Ini untuk kalian berdua,” kata Al-Qur’an. Alangkah agung sepasang suami-istri yang memakai jubah kebesaran itu.
“Tapi amal ibadah kami takkan cukup untuk kami memakai jubah ini,” kata sang suami. “Jubah ini terlalu agung untuk kami.”
“Tidak, kalian berhak atas jubah ini.”
“Benarkah?”
“Benar.”
“Apa gerangan yang membuat kami berhak memakai jubah ini?”
“Kalian tidak percaya?”
“Bukan. Sekadar menenangkan hati kami.”
“Anak kalian adalah seorang pembaca Al-Qur’an. Jika kalian berjumpa dengan lelaki yang memakai mahkota, itulah anak kalian. Temuilah dia di hadapan Allah Swt. yang kini sedang menunggu kedua orangtuanya.”{}

Selasa, 25 Januari 2011

Pengantar Matan Ghoyah wa Taqrib

Acara: Kuliah Subuh Ahad ke 3 tiap bulan
Waktu: 05:00-06:30
Pengasuh: Drs. Hasan Anshori, MA.

Kitab "Matan Ghoyah wa Taqrib" ditulis oleh (imam) Al Isfahani pada sekitar tahun 500 Hijrah [perlu koreksi]. Banyak kitab klasik berikutnya yang diturunkan dari (struktur) kitab ini. Diantaranya, kitab yang berisi syarah, yaitu Fathul Quraa' oleh penulis berikutnya (perlu koreksi). Kitab kedua ini pun dibuatkan syarahnya lagi yang dikenal dengan Al Bajuri, sesuai nama penulisnya.

Kitab Matan Ghoyah wa Taqrib menggunakan rujukan madzhab Imam Syafii.

Sejarah ringkas 4 Imam madzhab

1. Imam Abu Hanifah/madzhab Hanafi (70 tahun, 10-80 Hijriyah)

Riset atas hasil karya Imam Abu Hanifah dari menyimpulkan bahwa hadits yang dibawakan beliau r.a. sedikit atau secara kuantitatif, kajian beliau lebih banyak menggunakan rasio dengan porsi 25-75. Madzhab Imam Abu Hanifah r.a. banyak digunakan di Pakistan.

Dari sisi ibadah, Imam Abu Hanifah r.a. melaksanakan sholat malam sebanyak separuh malam, dengan bacaan selurh Alquran. Dalam riwayat, ketika beliau r.a. mengetahui hal ini disiarkan oleh orang lain, maka beliau r.a. memperpanjang sholat malamnya hingga seluruh malam. Hal ini beliau r.a. kerjakan selama 30 tahun.

Salah satu karya ulama Pakistan yang menggunakan logika madzhab Imam Abu Hanifah r.a. adalah karya Fathurrahman ketika beliau ada di Kanada. Ulama Indonesia yang menggunakan pendekatan serupa adalah Dr. Nurcholish Majid.

2. Imam Malik bin Anas (90/93H + 86 tahun)

Imam Malik r.a. dikenal mempunyai banyak guru sejumlah 700 orang. Madzhab beliau r.a. adalah yang banyak diikuti penduduk Madinah. Karya beliau adalah kitab Shahih Muatta'.

Ibadah beliau r.a. tidak banyak diberitakan.

3. Imam (Muhammad bin Idris Asy) Syafii, 150H + 54 tahun

Imam Syafii r.a. telah menghafal Alquran (sebagai hafizh) sejak usia 9 tahun. Pada usia 16 tahun, beliau diketahui tidak banyak makan (taqrir math'am atau mempersedikit makan). Beliau r.a. khatam Alquran setiap hari, dan pada bulan bulan ramadhan khatam 2 kali setiap hari. Imam Syafii r.a. mempunyai banyak karya, diantaranya adalah yang berisi kaidah-kaidah hukum (ushl fiqh).

4. Imam Ahmad bin Hambal (164H + 77 tahun)

Ciri dari pemahaman madzhab Hambali adalah pemahaman harfiahnya terhadap dalil naqli. Secara kuantitatif, porsi akal terhadap Alquran dan Hadits adalah 25-75. Meskipun demikian, ketika beliau r.a. melakukan pembahasan fiqh, porsi akalnya lebih besar, sehingga dalam konteks fiqh bahasan beliau r.a. sering dikeluarkan dari perbandingan madzhab.

Madzhab Hambali umum diikuti di Arab Saudi (pada masa Raja Saud), terutama dengan pembaharuan yang dibawa oleh Muhammad bin Abdul Wahhab (Wahabi). Ciri dari gerakan Wahabi adalah gerakan dakwah yang frontal dan tidak mempertimbangkan situasi lokal. Beberapa ulama menyebutkan bahwa gerakan Wahabi melupakan kaidah hikmah dan hasanah atau kebijaksanaan.

Salah satu penerapan hukum yang banyak dilihat i Arab Saudi adalah pendapat bahwa sholat jamaah di Masjid adalah fardhu ain. Dengan dasar ini, polisi (pamong praja) bersama dengan seorang ulama berkeliling di jalan menyuruh mukminin segera pergi sholat jamaah.

Dari sisi ibadah, Imam Ahmad bin Hambal melakukan sholat tidak kurang dari 300 rakaat sehari semalam.

4 imam diatas mengikuti mainstream Imam Abul Hasan Al Anshari atau yang dikenal sebagai golongan Ahlussunnah wal Jamaah/Sunni. Dalam kajian ahlussunnah, ijtihad bersifat mutlak, dengan peralatan yang sempurna. Dalam arti, tiap perintah di Alquran dan Hadits diteliti hingga muncul kesimpulan mengenai hukumnya sebagai wajib atau boleh. [perlu penjelasan karena yang mencatat tidak terlalu faham]